Saya adalah seorang istri dan ibu dari 3 anak balita. Sebelum menikah saya adalah wanita karier dan tulang punggung bagi ibu saya yang single fighter. Saya terbiasa bekerja sedari kuliah, karna kuliah sambil kerja. Keinginan saya keras, jika menginginkan suatu hal saya akan berusaha keras. Alhamdulilah, hubungan saya sangat erat dengan mama, dan saat itu saya pun gemar ikut kajian pengajian rutin. Ketika menikah, realita tak seindah ekspetasi. Banyak ujian dan rintangan untuk terus dekat dengan allah. Ujian kesabaran merawat mama yg sakit keras, kehilangan mama, opa dan oma, serta merawat 3 balita sendiri, jauh dari keluarga membuat saya terapuh dan depresi. Iya, saya sempat berpaling dari allah, karena allah mengambil semua orang2 yg ku sayang meninggalkanku sebatang kara. Saat itu saya tidak menerima qodho dan qodar allah karena kehidupan saya tidak sebahagia saat mama msh ada disamping saya. Jujur, psikologis saya sangat jauh dari yg diharapkan, saya terbiasa jadi wanita karier, punya gaji sendiri, semua keinginan saya selalu bisa saya penuhi. Ketika jadi ibu rumah tangga, saya harus banyak bersabar dan memilah antara keinginan dan kebutuhan karna kondisi ekonomi yg jauh berbeda dibanding dulu saat masih single yg bisa kemana2 dan bisa beli apa saja untuk bahagiakan mama. Tapi... Semua berbeda.. Suami hanya bisa bilang sabar karna ini ujian allah. Entahlah, saat itu saya membutuhkan pendengar yg baik bukan hanya sekedar komentar sabar. Saya selalu merasa ibu rumah tangga pekerjaan yg tak pernah dihargai, pekerjan yg tiada henti tanpa upah yg tak sebanding. Ketidakterimaan says terhadap qodho dan qodar allah membuat saya rapuh dan terpuruk. Hingga saya melihat sosial media ttg ibu bahagia, tulisan yg meninggikan pekerjaan ibu rumah tangga.
.
Saat itu saya mulai terinspirasi dengan bengkel diri. Saya punya 3 balita rasanya ingin ikut kajian banyak bgt halangannya. Dengan mengikuti bengkel diri, saya bisa memperbaiki diri, introspeksi diri, dan yg pasti saya bisa menerima qodho dan qodar yg allah berikan pada saya. Jujur, saya lebih tenang, lebih bisa ikhlas menerima keadaan saya saat ini. Saya bisa belajar bersyukur. Iya, bersyukur ketika kehilangan keluarga yg teramat saya sayang, allah titipkan 3 balita yg lucu dan menggemaskan sebagai pelipur lara. Saya bersykur memiliki suami dan keluarga baru yg menerima saya apa adanya. Saya bersyukur dapat melihat perkembangan anak saya setiap detiknya. Di bengkel diri saya banyak belajar tentang hidup yg hanya sesaat, ujian pun hanya sesaat, semua akan kita lewati dan kita harus melakukan yg terbaik, melakukan semuanya karna allah, insyaalah semua menjadi ibadah kita. Seperti dalam al-qur'an Allah Ta’ala berfirman:
{وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إِلا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلا رَادَّ لِفَضْلِهِ. يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ}
“Jika Allah menimpakan suatu keburukan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak kurnia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS Yuunus: 107).
.
Saat mengikuti bengkel diri saya selalu merasa tertampar, dengan semua materi yg diberikan. Tamparannya membuat saya sadar betapa besarnya nikmat yg allah berikan namun saya kufur nikmat pada-Nya. Astagfirullohal'azim. Ya allah, semakin hamba mengenal Mu, semakin kecil diri hamba, semakin fakir ilmu diri ini, semakin hamba tau betapa besarnya nikmat-Mu dan betapa sayangnya diri-Mu padaku.
.
Alhamdulillah, Alhamdulilah, Alhamdulilah, terimakasih ya allah telah membuat hamba menjadi pribadi yg sadar akan besarnya dosa hamba hingga hamba bisa bertaubat sebelum mati, ya allah jadikan diri hamba istiqomah selalu di jalan Mu, tetapkan hati hamba untuk selalu bersabar, ikhlas dan bersyukur dengan apapun ujian yg Engkau berikan pada hamba
.
Jazakillah ummu balqis, jazakillah bengkel diri, jazakillah ukhtifillah sahabat di kelas BD Lv 1 Ummu Salamah, BD Lv 2 Masjidil Al-Haram yg share tentang pengalamannya dan menjadikan pelajaran bagi saya.
.
Pelajarannya, bagi saya pribadi yg ditinggal meninggal orang2 tersayang, manusia itu bersal dari allah, tujuan hidup untuk beribadah kepada allah, dan kembali kepada allah. Hidup di dunia ini hanya sebentar, kemarin (masalalu yg tak bisa dirubah), sekarang (yang sedang berlangsung, dan besok (kehidupan yg masih misteri). Kita hanya punya waktu sekarang, maka perbaikilah diri, lakukan yg terbaik, beribadah tepat waktu, dekati allah. Allah sayang sama kita. Allah tau yg terbaik untuk kita. Be khusnuzon, keep istiqomah, dan tetap semangat teman. Jika, kamu tak punya teman untuk curhat masih ada sejadah untuk sujud dan berdoa pada allah.
.
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ[
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sebelum kaum itu sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’d 13: 11).
.
Semoga tulisan ini bermanfaat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar